Senin, 08 September 2008

HAL-HAL YANG PERLU ANDA PERHATIKAN DALAM TRADING

  • Pelajari cara trading dengan benar, terus latihan dengan "Virtual" Trading dulu sampai anda bisa trading dengan baik dan bisa meraih Profit. Baru dengan life forex jika anda sudah yakin bisa melakukan trading dengan baik dan memperoleh profit.
  • Lakukan order dengan nilai kecil dulu sampai anda benar-benar yakin dan bisa memperoleh Profit dengan baik baru dengan nilai yang lebih besar. atau anda bisa menambah modal dengan melakukan deposit lagi. Semakin besar nilai transaksi maka semakin besar pula peluang profit anda.
  • Perhatikan "MARGIN" anda. Sebaiknya anda melakukan trading dengan besaran 10%-20% saja dari nilai margin anda agar lebih fleksibel dalam melakukan strategi trading.
  • Waktu melakukan order yang cukup baik adalah saat sesi EROPA - USA atau sekitar jam 2-5 sore 7-10 malam, sebab pergerakan market biasanya cukup aktif,
  • Waktu-waktu trading sbb: mulai jam 4 pagi, 7 pagi sampai jam 2 siang biasanya market asia, australia dan newzealand , jadi biasanya yang cukup aktif adalah pair yang berhubungan dengan JPY, AUD dan NZD ( Sesi asia ini biasanya tidak terlalu pergerakannya). kemudian Sesi EROPA di mulai dengan Jerman jam 2.00 siang biasanya pair yang berhubungan dengan EUR , CHF dan GBP (jam 5 sore sesi London) yang cukup aktif apalagi jika ada news penting, Selanjutnya sesi USA dari jam 7.30 malam dan biasanya pergerakannya cukup cepat untuk semua pair sampai jam 10 malam.
  • Perhatikan Pula Jadwal News Yang akan keluar, sebab News Bisa Sangat Berpengaruh terhadap Market . tunggu dan lihat gerakannya tapi jangan lupa tetap pegang mode Candle stick. Anda bisa lihat jadwal news ( Untuk GMT +7 = WIB)
  • Jika anda serius ingin memperoleh income maka and bisa menambah modal sesuai kemampuan anda misalnya $100 atau lebih, Makin besar modal anda maka makin besar income yang bisa anda raih.
  • CONTOH: Jika anda memiliki modal $1000 dan bisa transaksi $100 sekali order, jika anda bisa memperoleh +100 pips saja seminggu, maka profit anda sekitar $100 juga, maka ini rasanya sudah cukup menutup biaya online, juga untuk biaya hidup. Anda tak perlu ngoyo melakukan trading, cukup menunggu saat yang tepat atau posisi yang terbaik saja untuk melakukan trading, jadi bisa meminimalisir resiko dan memperbesar peluang profit.
  • Forex adalah salah satu cara untuk memperoleh income yang legal dan bisa di ikuti siapa saja, marketnya akan terus eksis, tak perlu bersaing, menjual, merekrut dll, Yang penting Pelajari caranya dengan Baik dan benar maka akan bisa menjadi sumber income bagi anda untuk selamanya.
  • Anda harus serius dan Fokus dan rencanakan trading sesuai tips diatas sebab tak ada sesuatu yang bisa diraih dengan hanya iseng saja.
  • Sabar dan tunggu sampai order anda profit baru di close, Tips ini lebih didasarkan pada cara melakukan trading dengan Aman atau meminimalisir resiko sekecil mungkin.
  • Jadi prinsipnya Jangan close sebelum profit, dengan tips ini mungkin anda tidak bisa memperoleh profit besar dengan cepat, tapi lebih aman dari resiko loss/rugi .Sebab di Forex anda bisa profit besar tapi juga bisa loss/Rugi besar dengan cepat. Jadi minimalisir peluang kerugian agar anda bisa memperoleh profit.
  • LATIH KESABARAN, JAGA EMOSI DAN SELALU BERPEGANG PADA PLAN
  • JANGAN SERAKAH DAN INGIN CEPAT MEMPEROLEH PROFIT YANG BESAR SEBAB BISA MENJADI BUMERANG DAN RUGI BESAR.
  • akah anda ingin sukses atau hanya sekedar iseng saja, semuanya anda tentukan sendiri. Yang terbaik adalah anda pelajari cara tradingnya sampai anda benar-benar mahir sebab ini akan berguna selamanya.
  • Agar trading anda optimal, terutama bagi anda yang pake warnet, maka bisa perhitungkan berapa biaya yang anda keluarkan untuk akses internet

PERHATIAN UNTUK PEMULA:

  • Silahkan Berlatih dengan "Virtual Trading" dulu sampai anda bisa melakukan trading dengan baik dan benar serta bisa memperoleh Profit.

  • Jika sudah Bisa maka anda bisa melakukan Trading sesungguhnya "Live Trading" dengan Menggunakan dana/Modal $5 bonus yang anda peroleh

  • Jika anda bisa profit dan mengembangkan Bonus anda maka anda bisa menambah modal jika ingin memperoleh Profit yang lebih Besar dan Cepat, Bisa $10 $100 atau Lebih sesuai Kemampuan Anda.

  • Inilah Peluang Income yang bisa menjadi Sumber penghasilan yg tak kenal reses, fleksibel dan bisa anda lakukan dari mana saja.

  • sumber http://internet.marurat.com/

TIPS TRADING OTOMATIS DENGAN PENDING ORDER...!

Ada beberapa tips trading yang bisa anda ikuti yaitu berupa Tips AUTO TRADING , HEDGING dan Kombinasi Hedging:

  • Tips ini hanya dilakukan untuk satu Pair saja, terserah pair apa yang anda suka
  • Gunakan sekitar 10%-20% saja dari dana anda untuk setiap order
  • Anda tetap harus berpatokan pada Trend jangka panjangnya (Daily) dan mengetahui titik-titik support-pivot-resistant nya agar bisa memperkirakan titik-titik batas yang mungkin terjadi.

1. Tips automatic Trading tanpa perlu prediksi .

Tips ini berupa cara melakukan trading dengan pending order type Stop pada 1 pair saja dengan nilai order yang sama besar ( Misalnya pair GBP/USD dengan Quantity masing-masing 1000), biasanya cukup baik mulai menjelang Market buka Misalnya sekitar jam 2-3 sore ketika Market EROPA mulai buka dan pergerakan harga biasanya mulai besar ( Jika market tetap belum bergerak signifikan maka bisa dilakukan menjelang USA open jam 7.30 malam)
misalnya untuk pair GBP/USD dengan posisi bid :1.9420 dan offer: 1.9425 caranya sbb:

> Cara melakukan order otomatis tanpa Stop loss dan exit target sbb:

  • > Buatlah pending order type "Buy Stop" sekitar 15 pips diatas offer atau di: 1.9440
  • > Buatlah pending order "Sell Stop" sekitar 15 pips di bawah Bid atau di : 1.9405
  • > Anda juga bisa membuat "Sell Stop, Buy Stop" berdasarkan titik-titik Resistant-Pivot-Support seperti di bagian atas.

> Cara melakukan order otomatis dengan Stop loss (SL) dan Target Profit (TP):

  • Buat pending order type "Buy Stop" sekitar 15 pips di atas offer saat itu (di: 1.9445) lalu isikan Exit Stop loss nya sekitar -15 (di: 1.9405) dan Exit Target profit +30 sampai +50 ( mis di: 1.9475)
  • Buat pending order type "Sell Stop" sekitar 15 pips di bawah Bid saat itu (di: 1.9400) lalu isikan Exit Stop loss nya sekitar -15 (di: 1.9420) dan Exit Target profit +30 sampai +50 ( mis di: 1.9370)
  • Untuk teknik ini semua berjalan otomatis sebab telah disetting exit Stop loss dan target profitnya, walaupun ditinggal ofline amaka akan terclose sendiri oleh system jika terjadi order dan juga terjadi profit +30 atau terjadi loss -20. artinya jika profit maka anda akan memperoleh +30 pips tapi jika terjadi loss maka akan dibatasi hanya sampai -20 pips .
  • Untuk patokan Res-Pivot-Sup maka bisa setting SL atau TP nya seperti di bagian Res-Pivot-Sup.

SEdangkan untuk metode order tanpa Stop loss atau Exit Target profit maka:

Setelah market bergerak, Jika harga bergerak naik atau turun salah satu order anda akan tercapai dan ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yaitu:
1. Jika harga bergerak lurus misal naik terus /turun terus maka salah satu order anda akan aktif. jika harga bergerak naik terus maka pending order "Buy Stop" anda akan aktif , dan kalau sudah profit bisa anda close, Lalu segera batalkan (Cancel) pending order "Sell stop" anda. sebaliknya Jika harga turun terus maka "sell stop" anda yang akan aktif dan bila sudah profit bisa anda close. Segera batalkan pending order"Buy stop" anda. untuk order pagi hari biasanya bisa di close pagi juga. atau jika tidak maka bisa sore atau malam..
2. Kemungkinan kedua jika harga bergerak naik-turun sehingga kedua pending order anda aktif maka akan terjadi minus (-35 pips) dan posisi order anda berlawanan arah ( Hedging), Posisi ini akan aman biar berapapun harga bergerak sebab jika 1 order profit maka order lain akan minus dan sebaliknya.
Jika terjadi seperti ini, anda harus menunggu sampai pasar bergerak cukup jauh menembus salah satu order. misalnya jika harga sudah naik cukup besar dan jenuh/ada tanda mau turun maka anda bisa close order "Buy" yang sudah profit, lalu tunggu order "Sell" anda sampai berkurang minusnya dan di close. yang penting adalah meminimalisir nilai minus/loss/rugi menjadi sekecil mungkin. Untuk kasus seperti ini bisa kita tunggu sampai sore atau malam sekitar jam 9-10 saat market biasanya mulai jenuh baru bisa close.

Anda juga harus pelajari kebiasaan yang terjadi misalnya range high-low dalam sehari (biasanya bisa kita lihat malam hari pukul 8-9 malam). Untuk GBP/USD biasanya rangenya sekitar 100 Pips atau lebih dan jika ada news besar kadang bisa sampai 200 pips. Setelah anda tahu high-lownya dalam sehari : Misal kedua order anda tersentuh dan market turun sehingga order buy anda mendapat profit maka bisa di close. dan sebagai antisipasi maka anda bisa membuat pending order kembali "Sell Stop" sekitar 10 pips di bawah titik "Low" hari tersebut. maksudnya jika harga masih terus menembus ke bawah maka akan terkunci kembali demi keamanan. Tapi bila tidak tersentuh dan harga berbalik arah maka anda bisa close order buy yang minus paling tidak jika bisa impas saja sudah bagus. Ini adalah langkah untuk meminimalisasi resiko.

KETERANGAN:

untuk jarak pending order bisa 15 pips sampai 40 pips tergantung pair yang anda pilih dan rangenya tiap hari. silahkan anda coba dulu dengan 15 pips atau 20 pips atau 30 pips. dan lihat hasil yang terbaik.

2. TIPS ORDER DENGAN METODE 2 ARAH ( HEDGING)

Tips ini dilakukan dengan langsung melakukan order "Buy dan Sell" secara bersamaan pada satu Pair dengan besar yang sama. Misalnya untuk GBP/USD di : bid: 1.9420 dan offer: 1.9425
> Buat order "Buy" pada titik offer 1.9425
> Buat order "Sell" pada titik Bid 1.9420

Maka kedua order anda aktif dan berlawanan arah dengan total minus -10 ( Karena Spread GU -5), Anda tinggal menunggu pasar bergerak sehingga salah satu order akan profit dan satu minus, kemanapun harga bergerak maka selisihnya akan tetap yaitu -10. Anda bisa menunggu sampai pergerakan harga jenuh dan ada tanda balik arah.
Misalnya jika harga naik terus dan sudah terlihat jenuh (Ada tanda mau turun) maka anda bisa close order "Buy" yang sudah Profit dan tunggu order"Sell" anda sampai berkurang minusnya lebih kecil dari profit yang anda dapat, baru bisa di Close.

Perhitungannya adalah jika anda bisa profit +100 point dan anda Loss/Rugi -80 point, maka anda tetap bisa profit 100-80 = 20 point.
Memang tidak besar tapi lebih aman, tak perlu prediksi dan bisa anda lakukan kapanpun, terutama jika pasar sideways/Naik turun saja.

  • Anda bisa gunakan patokan Resistant-Pivot-Support untuk menentukan saat-saat close order. misal jika naik anda close 5 pips di bawah resistant dan buat lagi antisipasi dengan buy stop sekitar 10 pips diatas resistant untuk berjaga-jaga jika harga masih menembus titik resistant.
  • Anda juga harus pelajari kebiasaan yang terjadi misalnya range high-low dalam sehari (biasanya bisa kita lihat malam hari pukul 8-9 malam). Untuk GBP/USD biasanya rangenya sekitar 100 Pips atau lebih dan jika ada news besar kadang bisa sampai 200 pips, Anda bisa memanfaatkan kebiasaan ini untuk membuat target profit. Misalnya anda setting taret profit (TP)= 100 pips sehingga walaupun anda tidak online maka akan terclose sendiri jika mencapai 100 pips profit dan saat anda online harus menunggu sampai Loss nya kurang dari 100 pips untuk di close.
  • Anda harus disiplin untuk melakukan close setiap hari agar mudah di pantau tiap hari. Setelah anda tahu high-lownya dalam sehari : Misal market turun sehingga order sell anda mendapat profit maka bisa di close. dan sebagai antisipasi maka anda bisa membuat pending order kembali "Sell Stop" sekitar 10 pips di bawah titik "Low" hari tersebut. maksudnya jika harga masih terus menembus ke bawah maka akan terkunci kembali demi keamanan. Tapi bila tidak tersentuh dan harga berbalik arah maka anda bisa close order buy yang minus jika sudah lebih kecil dari profit yang anda peroleh.

Waktu: Agar lebih Mudah maka anda bisa mulai order di pagi hari, Lalu di cek kembali malam hari sekitar pukul 7-9 malam sebab biasanya sudah terjadi range harian dan high-lownya.

3. TIPS KOMBINASI HEDGING

Jika anda sudah melihat kecenderungan pasar, misalnya trend hourly dan dailynya naik, lalu pada saat anda online trend juga masih terlihat naik atau sebaliknya, yang jelas anda sudah bisa melihat kecenderungan trend yang terjadi. maka anda bisa ambil order langsung sesuai trend dengan antisipasi order type Stop yang berlawanan misalnya:
> Jika anda merasa harga akan naik, maka bisa langsung melakukan order "Buy" dan sebagai antisipasinya anda bisa mengambil pending order "Sell Stop" sekitar 30-50 pips di bawah order Buy anda. Jika prediksi anda benar maka anda akan langsung profit dan bisa close ( Jangan Lupa Cancel "Sell Stop" nya). tapi jika salah maka pending order anda akan aktif dan mengunci posisi agar kerugian anda bisa di minimalkan, anda bisa terapkan langkah seperti pada Tips automatic trading langkah kedua.
> Jika anda prediksi harga turun, maka bisa langsung order"Sell" dan atisipasi dengan "Buy Stop" sekitar 30-50 pips di atas order sell anda. Jika harga memang turun terus dan profit maka anda bisa close ( Jangan lupa Cancel "Buy Stop" Nya), Tapi jika prediksi anda salah dan harga malah naik maka posisi akan terkunci. dan ikuti langkah seperti di bagian Tips Automatic Trading.

CATATAN:

Selain teknik diatas, masih ada beberapa hal yang berpengaruh pada pergerakan market misalnya NEWS Berupa Berita-berita ekonomi politik dll.

TIPS TRADING DENGAN NEWS.....!

Berita ekonomi, politik, bunga bank, bursa, harga emas, minyak, bencana alam dll bisa memiliki efek yang cukup besar pada pergerakan market. karena itu anda perlu berhati-hati pada saat ada berita yang akan keluar. Biasanya juga menjelang Bursa mulai buka pada jam jam: 7.00 - 8.00 WIB (Japan), Jam 2:00-3.00 Sore (EROPA), 4.00-5.00 sore (London), 7.00-8.00 Malam (USA). sebaiknya berhati-hati dan lihat efeknya terhadap market. Bagi yang sudah bisa memperkirakan efek news dengan baik maka bisa berpeluang meraih profit dengan cepat, tapi bagi anda yang belum ahli sebaiknya menunggu dan melihat efek yang terjadi jika ada jadwal News yang keluar agar bisa meminimalisir resiko. Anda bisa melihat data berita-berita secara langsung

Model grafik gunanya untuk membantu kita melihat pergerakan market, silahkan pelajari terlebih dahulu agar bisa memanfaatkannya untuk memperoleh akurasi yang baik dalam malakukan trading.

TIPS MELAKUKAN TRADING :: (Untuk GBP/USD)

  • Tips ini bisa dilakukan sekitar 30 menit-15menit Sebelum Bursa EROPA Buka (Sekitar jam 2 siang), terutama sebelum terjadi pergerakan yang sebenarnya(Range hari itu masih dibawah 50 point).

  • Range pergerakan harian GBP/USD biasanya antara 100-150 pips

  • Pada kondisi extrem bisa mencapai 200-300 pips

  • Gunakan 10%-20% dari margin anda untuk Leverage 1:100 ( Seperti Marketiva)

  • Gunakan 2%-5% dari untuk Leverage 1:400 (seperti Fxcast)

  • Tips ini hanya bisa dilakukan jika Broker anda memperbolehkan Hedging ( Marketiva boleh hedging jika account anda di bawah $1000)

  • Kami rekomendasikan Hanya untuk sekali transaksi setiap hari.

START MELAKUKAN ORDER:

Jika anda melihat kemungkinan trend GBP/USD akan naik( Misalnya software menunjukkan tanda akan naik)

  • Silahkan ambil posisi "Buy" (Type:Market) (misal 1 lot atau Untuk marketiva berdasarkan Quantity)

  • Setelah itu anda harus melakukan Pending Order "Sell Stop" sekitar 20 sampai 30 pips dibawah harga saat itu ( Dengan besar order yang sama)

  • Contoh: Buy GU di: 2.0720 dan Sell Stop di : 2.0690

Jika anda melihat Kemungkinan trend GBP/USD akan Turun

  • Anda bisa ambil posisi "Sell Order" (Type: Market)

  • Lalu anda harus melakukan pending order "Buy stop" sekitar 20-30 diatas posisi saat itu

  • Contoh : sell di: 2.0720 dan Buy stop di : 2.0750

Hanaya ada 2 kemungkinan yang akan terjadi:

1. Jika order anda sesuai dengan gerak pasar dan pending order anda tidak tersentuh (Tetap blom aktif),

  • Maka anda akan langsung memperoleh profit dan anda bisa close posisi yang profit tersebut

  • Anda juga harus melakukan Cancel atau delete pada "Pending Order" yang belum aktif.

  • Jika anda bisa terus online maka bisa terus mengawasi market dan melakukan Close jika merasa profit sudah cukup. misalnya +20 atau sampai +50 an

  • Jika anda ofline setelah melakukan order maka sebaiknya mengeceknya sebelum Market USA buka untuk close jika profit.

  • Kami hanya merekomendasikan trading sekali saja dan ulangi tips yang sama besok harinya

2. Jika ke 2 order anda aktif atau pergerakan market tidak sesuai perkiraan kita maka:

  • Anda bisa menungu sampai pergerakan matang dengan Range 100-150 pips sudah terjadi atau pada situasi extrim bisa anda lihat dari range harian sehari sebelumnya ( Juga bisa di dasarkan posisi support-pivot-resistant)..

  • Anda bisa close posisi yang profit ( Close Buy jika mendekati titik high hari itu atau close sell jika mendekati Low hari itu)

  • Atau jika anda melihat tanda pergerakan pasar mulai berbalik arah. maka bisa close posisi yang profit

  • Setelah itu maka anda harus menunggu posisi yang loss agar nilai lossnya lebih kecil dari profit yang anda peroleh

  • Lalu close posisi yang loss jika sudah lebih kecil atau sama dengan nilai profit

  • Contoh : Jika anda close +100 dan -90, Maka anda masih memperoleh +10

  • Resiko Terburuk jika anda tidak yakin dengan kapan harus close dan menunggu atau anda tidak bisa terus online, maka anda bisa close kedua order tersebut dengan Resiko anda mengalami Rugi antara -20 sampai -35 ( Kerugian yang anda derita bisa tetap di minimalisir)

  • Kami rekomendasikan anda untuk menutup semua order pada hari yang sama.

PERLU DI INGAT

  • Kami hanya rekomendasikan sekali order saja setiap hari dan dimulai saat market belum banyak bergerak/ sebelum market eropa.

  • Semua order harus di close pada hari yang sama untuk meminimalisir resiko

  • Anda bisa melakukan tips ini setiap hari.

  • Silahkan mencoba terlebih dahulu dengan Demo atau Virtual trading, Jika anda bisa memperoleh hasil yang bagus, maka anda bisa memakai cara ini dan jika tidak maka jangan di gunakan.

  • Kemampuan membaca trend dan feeling anda tetap sangat berperan disini.

TIPS TRADING DI MARKETIVA...!

MENSETTING GRAFIK DENGAN CANDLESTICK DAN EMA 5-21

Misalnya jika anda ingin trading pair EUR/USD maka silahkan Setting dulu CHART nya:

  • Klik kanan mouse anda pada Grafik di streamster, lalu pilih "Instrument" lalu pilih "EUR/USD" maka akan tampil grafik untuk EUR/USD ( Anda bisa pilih Pair apa saja yang ingin anda lihat grafiknya)

  • Klik kanan lagi pada grafik , lalu pilih "Timescale" dan pilih "Hourly" untuk menampilkan pergerakan dengan waktu 1 jam ( Anda juga bisa pilih yang lain mis 15 minutes dll)

  • Klik kanan lagi pada grafik, Lalu pilih "Style" dan pilih "Candlesticks", maka akan tampil model grafik berupa candle stick. Cara bacanya sbb: Jika Candelstick itu berwarna hitam maka artinya trend turun harga, jika berwarna putih trend naik harga.

  • Untuk timescalenya sebaiknya lihat yang "DAILY" terlebih dahulu, Jika daily menunjukkan trend naik maka cocok untuk order BUY, Jika yang hourly atau 15 menit menunjukkan turun sebaiknya tunggu sampai menunjukkan tanda naik untuk order BUY. Jika anda melakukan order sell yang melawan trend daily biasanya sangat beresiko. Jadi sebaiknya ambil order yang hourly/15 menitnya sesuai dengan Daily.

    Penting: Anda harus pelajari contoh2 candlestick yang bisa menunjukkan trend berikut:

    > Contoh Candlestick Style untuk trend Bullish atau Naik : KLIK DISINI

    > Contoh Candlestick style Untuk Trend Bearish atau Turun : KLIK DISINI

<*> CARA MENSETTING EMA 5 dan 21 di GRAFIK

Untuk Merperkuat melihat Trend Market bisa tambahkan EMA-5, EMA-21

Caranya SBB: Klik kanan pada grafik, lalu pilih "Indicators" dan pilih "Moving Average" sehingga muncul Form nya lalu isi seperti di bawah ini:

  • Untuk EMA-5 caranya: pilih di bagian "Type = Exponential" , di bagian "Period= 5" dan di bagian "Line colour" pilih warna Hitam.

  • Untuk EMA-21 caranya: pilih di bagian "Type= Exponential", di bagian "Period= 21" dan di bagian "Line Colour" pilih warna Biru

  • Jika Garis EMA-5 (hitam) memotong dari atas kebawah EMA 21 (Biru) candlesticknya berwarna hitam >maka trendnya adalah Turun/downtrend

  • Jika Garis EMA-5 (hitam) mulai memotong keatas & berada di atas Garis EMA-21(biru) dan candlesticknya putih berurutan>>> Maka Trendnya adalah NAIK atau uptrend.

  • Trend yang bisa di lihat dengan model EMA ini bisa untuk melihat trend jangka panjang tapi kadang agak terlambat daripada candlestick. dan kombinasikan dengan Style Candlestick maka bisa menghasilkan signal yang lebih baik.

<*> CARA MENSETTING STOHASTIC SLOW 10:3:3 :

Anda juga bisa menambahkan Stohastic slow untuk melengkapi grafik. Klik kanan di grafik lalu klik "Indicators" dan pilih "stohastic slow" dan buat periodenya 10 : 3 : 3 . Cara melihatnya cukup mudah : Jika garis stohastic berada di atas sekali dan mendekati garis batas lalu mulai ada tanda akan menurun ( 2 garis mulai memotong) maka menunjukkan kejenuhan dan menandakan akan terjadi penurunan ( saatnya order Sell ). Jika garis berada di bawah dan mendekati garis batas bawah maka menandakan kejenuhan dan akan kembali naik jika garis mulai menunjukkan arah naik dan mulai saling memotong ( saatnya Buy).

Setelah anda tahu trend pergerakan harganya maka anda bisa melakukan order sesuai dengan trend tersebut, misalnya jika trend sedang naik maka di rekomendasikan melakukan order "Buy" jika trend turun maka di rekomendasikan order "Sell".

<*> Tambahkan Bollinger Band

Klik kanan di grafik, pilih indicators dan Bollinger Band. Maka akan muncul 2 garis di bagian atas dan bawah dari grafik yang gunanya sebagai batas atas atau bawah pergerakan harga saat itu.

  • Jika market sedang naik turun ( biasanya jika tak ada news penting atau Bursa belum buka atau Pergerakan harian sudah matang) , maka biasanya kita bisa manfaatkan bollinger band ini untuk melakukan swing trading. cotoh: untuk hourly: jika candlestick menembus garis bollinger atas biasanya akan kembali turun (saatnya sell). Jika Candlestick menembus bollinger bawah biasanya akan kembali naik ( Saatnya Buy ).

  • Jika market mulai bergerak (Biasanya saat Open Bursa atau Ada news yang berpengaruh). jika harga dengan cepat menembus titik bollinger bawah dan bollinger band menunjukkan garis yang mulai melebar ke bawah maka anda harus hati2. Jika trendnya kuat turun maka saatnya untuk sell.

Resiko Manajemen Dalam Forex Trading


Forex trading tergolong sebagai investasi yang sifatnya high risk. Artinya forex trading tergolong memiliki resiko tinggi. Salah satu yang tertinggi diantara instrumen investasi keuangan lainnya.

Faktor resiko yang harus Anda ketahui sebelum memulai forex trading :
· Memiliki kemungkinan kehilangan dana 100%
· Arus dana sangat cepat (very liquid)
· Tidak ada metode trading yang dapat menjamin Anda pasti untung 100%. Ada banyak metode trading yang bagus namun tidak ada satu pun yang dapat menjamin pasti untung 100%
Forex trading bukanlah sebuah “quick rich scheme” yang dapat membuat Anda kaya mendadak tanpa harus bekerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Kerja keras merupakan bagian yang tak terpisahkan dari mereka yang mengalami kesuksesan finansial dalam hidupnya. Termasuk mereka yang sukses melalui forex trading.

Diperlukan kerja keras untuk mempelajari analisa dan perilaku pasar sehingga kita dapat menebak arah pergerakan harga dengan akurat. Begitu juga diperlukan mental ekstra ketika hasil trading tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Tanyakanlah pada trader-trader sukses yang Anda kenal, apakah mereka pernah mengalami jatuh bangun dalam trading mereka. Dan jawabannya hampir pasti adalah “ya”. Kesuksesan hanyalah disediakan bagi mereka yang mau berusaha dan belajar terus menerus meperbaiki dirinya.

Nah berkaitan dengan resiko yang harus dihadapi jika kita hendak memulai investasi di forex, diperlukan kiat-kiat khusus untuk memperkecil, atau bahkan membalikkan posisi kita yang tadinya minus menjadi kembali positif dan memperoleh untung. Berikut beberapa kiat dan manajemen resiko yang bisa Anda ambil:

1. Cut loss
Merupakan aksi menutup posisi Anda yang berlawanan dengan pergerakan harga pasar. Cut loss digunakan untuk membatasi kerugian yang dialami sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.

Sebagai contoh, katakanlah kita sedang membuka posisi kita pada GBPUSD Open Buy pada harga 1.8000. Membuka posisi Buy berarti kita mengharapkan harga naik melebihi 1.8000 sehingga kita memperoleh untung. Harapan kita harga bergerak misalnya hingga 1.8100 sehingga kita bisa memperoleh profit 100 point. Namun apa daya, ternyata harga bergerak berlawanan dengan yang kita harapkan. Ternyata harga bergerak turun terus menerus dari 1.8000 menjadi 1.7980 dan masih menunjukkan tendensi turun.

Nah daripada kita mengalami kerugian lebih lanjut dan akhirnya mengalami margin call maka lebih baik posisi ditutup meskipun kita menanggung kerugian 20 point (1.8000 menjadi 1.7980 = -20 point). Aksi ini dinamakan cut loss yaitu menutup posisi yang merugi guna mencegah kerugian yang lebih besar.

Detail Kasus Lainnya:

Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah quantity 10000. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.

Ternyata harga bergerak turun tak menentu hingga kisaran 1.8820.
Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja posisinya pada 1.8825. Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)

Profit dan Loss dihitung dengan rumus sebagai berikut

Diketahui:
Posisi Close: 1.8825
Posisi Open: 1.8850
Quantity: 10000

Maka:
Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 10000
Loss = -0.0025 x 10000
Loss = $-25 (Tuan A mengalami kerugian $25)

2. Switching
Aksi ini mirip dengan cut loss, namun bedanya setelah menutup posisi kita yang merugi, kita
membuka posisi baru dengan arah yang sama dengan pergerakan harga pasar.

Pada kasus yang sama dengan cut loss diatas, maka kita menutup posisi kita di 1.7980 lalu kita membuka sebuah posisi baru Open Sell karena harga cenderung mengalami penurunan. Dengan demikian jikalau harga terus turun katakanlah mencapai 1.7900 maka secara keseluruhan kita mengalami loss 20 point namun memperoleh profit sebesar 80 points (1.7980-1.7900 = 80) sehingga total kita masih memperoleh profit 60 points.

Contoh kasus

Mr. X memperkirakan harga akan NAIK. Jadi untuk mendapat keuntungan dia memutuskan membeli (Buy) dengan harapan harga akan naik sehingga dia bisa menjual dengan harga yang lebih mahal dan mendapat selisih Keuntungan. Tapi ternyata bukannya naik, malah TURUN harganya.

Dan setelah analisa ulang, Mr. X berkesimpulan perkiraannya bahwa harga akan naik ternyata SALAH. Jadi apa yang harus dia lakukan ? Daripada melawan harga pasar dan menderita kerugian, lagipula harga akan turun lebih jauh dari sekarang Dia memutuskan menutup posisi Buy nya yang merugi dan kemudian membuka posisi baru Sell (dengan harapan harga akan turun). Dan ternyata harga terus turun sehingga dia mengalami keuntungan melebihi kerugian yang diterima di posisi Buy yang dia tutup sebelumnya. Kemudian dia menutup posisi Sell tersebut dan menerima keuntungan.

Tips Untuk Anda:
* Lakukan hanya bila prediksi keuntungan switching melebihi
nilai kerugian posisi pertama yang akan ditutup.
* Kalau ternyata harga berubah ternyata sesuai dengan
prediksi pertama, maka anda akan menderita kerugian
2 kali, yaitu posisi pertama dan posisi kedua juga

Detail Kasus:

Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah Quantity 30000. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900. Ternyata harga bergerak turun tak menentu hingga kisaran 1.8820. Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja posisinya pada 1.8825. Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)

Diketahui:
Posisi Close: 1.8825
Posisi Open: 1.8850
Quantity: 30000

Maka:
Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 30000
Loss = -0.0025 x 30000
Loss = $-75 (Tuan A mengalami kerugian $75)

Kemudian Tuan A menganalisa lagi dan memprediksi harga dan diketahui harga akan terus bergerak turun, maka Tn. A membuka posisi Sell dengan Quantity sebanyak 20000 pada 1.8820. Tak beberapa lama harga terus turun hingga berada di kisaran 1.8730. Pada akhirnya Tn. A menutup posisinya pada 1.8740. Tuan A mendapatkan keuntungan 80 point (1.8820 - 1.8740 = 0.0080)

Profit/Loss = (1.8820 - 1.8740) x 20000
Profit = 0.0080 x 20000
Profit = $160

Keseluruhan hasil dari dua trading tadi adalah
Trading I = -$75
Trading II = $160
Laba = $160 - $75 = $85 atau Rp765.000,- ($1 = Rp 9000)

3. Averaging
Cara ini memerlukan modal ekstra untuk mempertahankan posisi yang telah kita buka yang ternyata bergerak berlawanan dengan harga pasar.

Katakanlah pada kasus yang sama dengan contoh Cut Loss diatas, maka jika kita hendak melakukan aksi averaging maka kita membuka posisi baru namun dalam hal ini tidak seperti switching yang menutup posisi kita yang mengalami kerugian lalu membuka posisi baru yang berlawanan dengan posisi kita yang sebelumnya dengan alasan harga telah bergerak turun. Pada averaging kita tidak menutup posisi kita yang telah dibuka (pada kasus ini Open Buy) lalu bahkan kita menambahinya dengan membuka posisi baru dengan arah yang sama yaitu Open Buy kembali!

Mengapa demikian? Bukankah kita telah melakukan Open Buy sebelumnya dan mengalami kerugian, lalu mengapa kita melakukan Open Buy kembali? Alasannya sederhana, kita berharap karena harga telah turun maka harga akan kembali naik sehingga ketika kita melakukan aksi Open Buy yang kedua diharapkan harga bergerak naik bahkan melampaui Open Buy kita yang pertama sehingga kita memperoleh keuntungan ganda.

Contoh Kasus
Mr. X memprediksi bahwa harga akan naik maka dia membuka posisi Buy. Namun harga ternyata bergerak turun. Mr. X segera menganalisa lagi dan kesimpulannya harga hanya akan turun sesaat dan akan kembali naik sesuai analisa sebelumnya Dia memutuskan membuka posisi buy baru saat harga turun sehingga ketika harga naik kembali dia bukan
hanya memiliki 1 posisi yang profit tapi 2 sekaligus. Ternyata benar, tidak lama kemudian harga naik dan kemudian Mr. X menutup kedua posisi nya tersebut, yang pertama dan yang kedua.

Detail Kasus:

Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah Quantity
20000. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa
melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu
dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.

Ternyata harga terkoreksi dan bergerak turun hingga 1.8825.
Tuan A kembali membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8825 dengan jumlah
10000. Dia juga memasang Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.

Lalu tak lama kemudian harga kembali terkoreksi dan menyentuh 1.8900.
Dengan demikian Tuan A mendapatkan 2 keuntungan dari 2 posisi yang telah dibuka :

Posisi I :
Profit/Loss = (1.8900 - 1.8850) x 200000
Profit = 0.0050 x 20000
Profit Posisi I = $100

Posisi II :
Profit/Loss = (1.8900 - 1.8825) x 10000
Profit = 0.0075 x 10000
Profit Posisi II = $75

Jumlah Profit kedua posisi : $160 + $75 = $235 atau Rp2.115.000,- ($1 = Rp9000)

Ketiga manajemen resiko diatas sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan. Jadi, betapa sayangnya kita mengalami kerugian hanya karena kita tidak mengetahui hal diatas. Namun apakah dengan mengetahui ketiga manajemen resiko tersebut kita dipastikan tidak pernah mengalami loss?

Jawabannya tentu saja tidak. Kalau Anda cermati, ketiga manajemen resiko diatas bertumpu pada satu hal: kemampuan kita menganalisa pergerakan harga. Ya, memang itulah inti dari forex trading. Manajemen resiko bahkan tidak pernah menjadi efektif apabila kita tidak mampu melakukan analisa dengan benar dan akurat. Jadi, mengetahui analisa adalah keharusan dalam memulai investasi di forex trading.

Masih banyak yang harus dipelajari dalam memasuki dan berinvestasi didunia forex. Kita baru saja mempelajari bagian terluar dari investasi ini. Yang penting Anda belajar dan belajar terus

Analisa Fundamental


Dasar penganalisaan secara Fundamental adalah informasi/berita (news) yang berasal dari :
1. Instansi Resmi/Pemerintah
2. Media cetak/elektronik
3. Perorangan
Sesuai dengan sumbernya, maka metode Fundamental bersifat subyektif, tergantung derajat kepercayaan Investor/Konsultan kepada sumber berita tersebut. Dasar penganalisaan secara Fundamental adalah informasi/berita (news) yang berasal dari :
1. Instansi Resmi/Pemerintah
2. Media cetak/elektronik
3. Perorangan
Sesuai dengan sumbernya, maka metode Fundamental bersifat subyektif, tergantung derajat kepercayaan Investor/Konsultan kepada sumber berita tersebut.

Sifat berita Fundamental dikelompokan menjadi dua yaitu :

1. Berita Permintaan bersifat Bullish
Bullish berasal dari kata ‘bull’ (sapi jantan); sifat tersebut menggambarkan gerakan harga pasar terlihat seolah-olah akan turun, namun sebenarnya akan naik (mirip gerakan sapi jantan menanduk musuhnya, yaitu menanduk, lalu dilemparkan keatas).
Contoh berita bersifat Bullish dari Reuter/media cetak :
- Cuaca buruk/storm/unfavourable,
- 3 – 6 conseccutive (berturut-turut) days up/firmer (menguat)
- Triggered Buying, Bottomside/bottomout , Buying Power, dll

2. Berita Penawaran/Supply bersifat Bearish
Bearish berasal dari kata ‘bear’ (beruang); sifat tersebut menggambarkan gerakan harga pasar terlihat seolah-olah akan naik, namun sebenarnya harga akan turun (mirip gerakan beruang mencengkeram mangsanya, yaitu mengangkat lalu dibanting).
Contoh berita bersifat Bearish dari Reuter/media cetak:
- Cuaca baik/favourable, 3-6 consecutive days down/easier (melemah)
- Lack of Demand (Kekurangan Permintaan)
- Triggered Selling, Topside capped (Puncak sudah tercapai), Harvesting
- Selling Power, Ample of stock (Stok melimpah),dll.

Faktor-faktor yang mempengaruhi analisa secara fundmental
  • Analisa:
  • Ekonomi
  • Politik
  • Keamanan (global, regional, negara)
  • Penentu:
  • Kecepatan memperoleh informasi
  • Sumber informasi
  • Pengolahan informasi & forecasting (ramalan)
Beberapa Data Ekonomi dan Pengaruhnya Terhadap Dollar AS

No. Economic Indicator Naik / Turun US$
1 Average Earning Naik Menguat
2 Balance of Payment Naik Menguat
3 Budget Deficit
Turun Menguat
4 Business Inventories
Turun Menguat
5 Capacity Utilization Naik Menguat
6 Car Sales Naik Menguat
7 Chicago PMI (Purchasing Management Index) Naik Menguat
8 Constuction Spending Naik Menguat
9 Consumer Confidence Index (CCI) Naik Menguat
10Consumer Credit (CI) Naik Menguat
11 Consumer Price Index (CPI) Turun Menguat
12 Consumer Spending (Expenditure) Turun Menguat
13 Cost of Living Naik Menguat
14 Current Acount Turun Menguat
15 Corporate Profit Naik Menguat
16 Deflasi Naik Menguat
17 Discount Rate Naik Menguat
18 Durabel Goods Orders Naik Menguat
19 Econimic Monetary System (EMS) Naik Menguat
20 Factory Orders Naik Menguat
21 Federal Budget Naik Menguat
22 Federal Reserve Fund Naik Menguat
23 Gross Domestic Product (GDP) Naik Menguat
24 Gross National Product (GNP) Naik Menguat
25 Housing Start Naik Menguat
26 Industrial Productions Naik Menguat
27 Invisible Trade Turun Menguat
28 Jobless Claims Naik Menguat
29 Leading Indicator Naik Menguat
30 Money Supply (M1, M2, M3, M4) Naik Menguat
31 National Association Naik Menguat
32 (NAPM) Naik Menguat
33 Non Farm Payrolls Naik Menguat
34Personal Expenditure Naik Menguat
35 Personal Income Turun Menguat
36 Prime Rate Naik Menguat
37 Product Price Index (PPI) NaikMenguat
38 Public Sector Debt Repayment Naik Menguat
39 Retail Sales Turun Menguat
40Trade Balance Naik Menguat
41 Trade Devicit Turun Menguat
42Trade Weighted Index Turun Menguat
43 Unemployment Rate Turun Menguat
44 Unit Labour Cost Naik Menguat
45 Value Added Tax Naik Menguat
46 Visible Trade Naik Menguat

Keuntungan
  • Mudah
  • Dapat menentukan harga secara global
  • Penentu trend jangka panjang (long term)
  • Pada kasus tertentu efektif untuk short term trading
Kelemahan
  • Tidak bisa menentukan secara eksak
  • Memakan banyak waktu
  • Subyektif, terlalu banyak asumsi yang dipakai
Saran : Perhatikan hanya berita-berita yang sifatnya sangat kuat pengaruhnya terhadap perubahan mata uang. Ex: Payroll, teroris, perubahan suku bunga.

Bollinger Bands

Bollinger Bands
Bollinger Bands diciptakan oleh John Bollinger pada awal 1980 an untuk membantu membandingkan volatilitas dan harga relatif dalam satu periode analisis. Bollinger bands sendiri sebenarnya terdiri atas tiga buah garis yang membentuk semacam sabuk pembatas terhadap pergerakan harga. Namun dalam penerapannya garis tengah Bollinger Bands seringkali tidak ditampilkan karena memang garis tengah tersebut hanyalah garis Moving Averages biasa. Perhatikan gambar berikut :

Seperti telah di terangkan diatas, Bollinger Bands sendiri bentuknya menyerupai sabuk yang menjadi pembatas pergerakan harga. Dapatkah Anda menemukan sesuatu pada gambar diatas? Ya benar. Apabila terjadi ketidak seimbangan antara demand dan supply, maka Bollinger Bands akan lebih melebar dibandingkan kondisi seimbang.

Sebagai contoh dari gambar diatas, terjadi keadaan dimana supply lebih banyak dari demand sehingga membuat harga turun dari 1.2185 menuju 1.2071 (114 point), maka sabuk bolinger akan lebih melebar karena memang laju harga sedang meningkat. Bandingkan dengan keadaan dimana demand dan supply cenderung sama seperti pada pukul 12.00 dan setelahnya. Jika terjadi keseimbangan yang artinya pasar akan bergerak dalam kondisi sideways maka Bollinger Bands akan lebih menyempit dari biasanya karena memang laju harga tidak secepat ketika uptrend atau down trend.

Sebagai volatility indicator, sebenarnya Bollinger Bands tidak dapat berdiri sendiri. Indikator ini biasanya digunakan hanya sebagai indikator awal untuk mengukur harga relatif dan volatility (volatile = mudah berubah – volatility = tingkat kecepatan dalam berubah). Bollinger Bands bukanlah indikator action, jadi disarankan jika menggunakan indikator satu ini, gunakan juga indikator lain sebelum mengambil keputusan untuk buy atau sell.

Formulasi Matematis

Seperti telah diterangkan diatas, Bollinger Bands pada dasarnya terdiri dari tiga garis. Yang timbul pada pikiran kita tentunya dari mana garis-garis ini berasal bukan? Nah, berikut penjelasannya:


Uper band = Simple Moving Average + (faktor pengali x standar deviasi)
Middle band = Simple Moving Average
Lower band = Simple Moving Average – (faktor pengali x standar deviasi)
Faktor pengali = [0.6174 x ln (periode Bollinger Bands)] + 0.1046
Untuk faktor pengali, biasanya digunakan angka 2 dibandingkan penggunaan rumus diatas.

Standar deviasi merupakan perhitungan statistik biasa yang digunakan untuk mengukur besarnya penyimpangan pada tiap-tiap data. Rumusnya adalah sbb:


dengan : Xi = data ke i
X = rata-rata

Data yang kita gunakan dalam perhitungan ini bukan hanya closed price saja seperti pada SMA biasa. Pada Bollinger Bands, data yang dipakai adalah gabungan antara high,low dan closinng price. Ada dua jenis pengambilan data pada middle band yaitu dengan memakai Typical Price dan Weighted Price.

Namun biasanya yang paling sering digunakan adalah typical price.

Karakter Bollinger Bands

Setiap indikator tentulah punya karakter masing-masing. Begitu juga dengan indikator satu ini. Satu hal yang unik yang dimilikinya adalah Bollinger Bands memampukan tiap-tiap orang menginterpretasikan indikator ini dengan caranya masing-masing. Bahkan John Bollinger sendiri, pencipta indikator ini mengatakan bahwa hal yang paling menarik dalam analisa menggunakan Bollinger Bands adalah memperhatikan bagaimana setiap orang menggunakannya. Meski ada beberapa aturan baku dalam Bollinger Bands, tetapi bisa saja trader satu dengan trader lainnya memiliki cara yang berbeda dan penggunaan yang berbeda dalam memakai Bollinger Bands. Berikut adalah karakter umum yang berlaku pada Bollinger Bands:

* Bollinger Bands adalah indikator awal yang tidak dapat dipakai sebagai indikator action.Harus diapakai bersama indikator lainnya. Tentukan salah satu indikator yang terbaik bagi Anda sebagai indikator action, namun jangan memakai indikator action lebih dari satu. Beberapa indikator action yang baik adalah RSI, Stochastic ataupun momentum. Terserah Anda.
* Pada umumnya harga akan bergerak dalam sabuk, namun demikian dapat juga harga bergerak diluar dari sabuk. Ini dapat berarti akan terjadi reversal atau malah sebaliknya penguatan trend yang sedang berlangsung. Untuk mengetahuinya kita dapat melihat indikator action yang kita pakai.
* Penentuan periode dalam Bollinger Bands juga berpengaruh disini. Semakin kecil periode yang dipakai maka lebar sabuk akan semakin kecil dan demikian sebaliknya.

Jika Bollinger Bands kita gabungkan dengan RSI, demikian hasilnya:

* Bila harga berada diluar upper band atau sama, sementara RSI masih berada dibawah zona overbought, maka ini berarti akan ada kelanjutan trend yang sedang terjadi. Sebaliknya bila RSI sudah berada diarea overbought dan sedang meninggalkan area overbought, maka ini berarti akan ada pembalikan trend dalam beberapa candle kedepan.
* Bila harga berada diluar lower band atau sama, sementara RSI masih berada dibawah zona oversold, maka ini berarti akan ada kelanjutan trend yang sedang terjadi. Sebaliknya bila RSI sudah berada diarea oversold dan sedang meninggalkan area oversold, maka ini berarti akan ada pembalikan trend dalam beberapa candle kedepan

Nah, mari kita lihat gambar berikut:

Perhatikan area yang dilingkari dan besar smoothing RSI. Pada 1.1932, besar smoothing RSI adalah 39.9429 dan harga telah menembus upper band dua kali secara berturut-turut. Ini mengindikasikan bahwa akan terjadi penerusan trend yang baru saja dimulai. Dalam kenaikan harga, tercatat beberapa kali juga harga menembus upper band namun RSI belum juga meninggalkan overbought area. Ini berarti trend masih akan terus terjadi sampai RSI meninggalkan overbought area.

Sekarang bandingkan dengan gambar berikut ini:

Pada area yang dilingkari smoothing RSI bernilai 31.7379 dan harga telah menembus lower band tiga kali dengan bullish candle. Dengan demikian diperkirakan akan terjadi pembalikan trend seperti terlihat pada candle berikutnya. Kenapa saya dapat memberikan perkiraan bahwa akan terjadi pembalikan trend dari bearish menuju bullish? Itu karena selain indikator action saya menunjukan harga telah meninggalkan oversold area dan mengarah menuju overbought area.

Dapat disimpulkan dari penggunaan contoh disini, sebenarnya pemaduan Bollinger Bands dengan indikator lainnya dapat kita lakukan bila kita memahami penggunaan indikator lain tersebut dengan benar. Penggunaan indikator yang tepat akan menghasilkan keputusan yang saling menguatkan dan menunjang sehingga diperoleh berbagai keuntungan. Semakin kita memahami penggunaan indikator action maka semakin besar kesempatan kita memanfaatkan Bollinger Bands sebagai volatilitiy indicator.

Pemakaian Bollinger Bands

Walaupun Bollinger tidak dapat digunakan sendiri, namun ada beberapa indikasi open Buy/Sell yang masih kita bisa peroleh melalui Bollinger Bands terutama melalui middle band. Ingat, pada dasarnya middle band adalah indikator Simple Moving Average. Ini berarti apa yang berlaku pada SMA juga berlaku pada middle band:

* Middle band berada di bawah harga, maka ini mengindikasikan Bullish trend.
* Middle band berada di atas harag, indikasi Bearish trend.
* Perpotongan antara middle band dan harga, indikasi peralihan trend.


Double bottom buy. Ini akan terjadi ketika harga menembus lower band dua kali berturut-turut. Adanya double bottom merupakan indikasi akan terjadi peningkatan harga. Namun untuk memastikannya, diperlukan konfirmasi harga menembus middle band. Jika telah menembus middle band, maka bisa diperkirakan akan terjadi uptrend dimana kita harus membuka posisi buy.


Kebalikan dari double bottom buy adalah double top sell yaitu keadaan dimana harga menembus upper band dan divalidasi dengan penembusan middle band juga. Ini berarti akan terjadi penurunan harga dimana kita harus membuka posisi sell terlebih dahulu guna memperoleh keuntungan.

Stochastic Oscillator

Stochastic Oscillator
Stochastic Oscillator merupakan alat analisis ciptaan George C Lane pada akhir 50-an. Seperti namanya, nilai kisaran pada indikator ini adalah 0-100 (oscillator). Stochastic Oscillator digunakan untuk menunjukkan posisi closing relatif terhadap range transaksi dalam suatu periode tertentu. Pada dasarnya indikator ini dipakai untuk mengukur kekuatan relatif harga terakhir terhadap selang harga tertinggi dan terrendahnya selama selang periode yang kita inginkan.

Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis yang disebut %K dan %D. Inti dari indikator ini adalah %K itu sendiri sedangkan %D adalah SMA dari %K. Bisa dikatakan bahwa %D adalah sebagai garis pengidentifikasian arah %K.

Jika kita lihat dari range Stochastic Oscillator yaitu 0-100, dapat dikatakan bahwa sebenarnya indikator ini tidaklah berbeda dengan RSI. Hanya saja dalam Stochastic perhitungan meliputi harga terendah, tertinggi dan closing price pada waktu yangditentukan.

Secara matematis Stochastic Oscillator didefinisikan sbb:




pada periode tertentu.

Recent close = harga penutupan terakhir
Lowest Low = harga terendah selama periode yang ditentukan
Highest high = harga tertinggi selama periode yang ditentukan

Sedangkan untuk %D adalah SMA dari %K itu sendiri. Secara default biasanya nilai %K adalah 14 dan %D adalah 3. Pemilihan periode %D hanya sebesar 3 periode disengaja untuk meningkatkan sensitifitas dari %D itu sendiri. Pertanyaannya apakah bisa selain nilai tersebut. Tentu saja bisa seperti indikator lainnya. Namun ada beberapa jenis Stochastic Oscillator dimana kita tidak dapat mengganti besar %D. Kita akan pelajari nanti.

mari lihat gambar dibawah ini



Fast, Slow dan Full Stochastic Oscillator

Sama seperti RSI yang juga oscilator indicator, kelebihan sekaligus kekurangan Stochastic adalah sensitifitasnya. Karena senstif maka dapat memberikan sinyal yang lebih dini dalam pemantauan pergerakan harga. Namun dengan demikian membuka celah munculnya berbagai sinyal palsu. Untuk mengurangi banyaknya sinyal palsu karena sensitifitas Stochastic maka diperlukan lebih dari sekedar %D untuk menghaluskannya. Garis %K pun dapat dihaluskan terlebih dahulu sebelum kemudian diolah kembali menjadi %D. Pengolahan ini membuat berbagai varian dari Stochastic Oscillator.

Fast Stochastic adalah nama lain dari Stochastic biasa (pada gambar diatas adalah Fast Stochastic). Apabila garis %K dimuluskan SMA 3 periode sebelum kemudian diolah kembali dengan SMA 3 peride berikutnya guna memperoleh garis %D maka akan diperoleh Slow Stochastic Oscillator. Sedangkan bila pemulusan menggunakan SMA dengan periode selain 3 untuk %K, Stochastic yang demikian dinamakan Full Stochastic Oscillator.

Dewasa ini pemulusan %K dari Stochastic bukan hanya menggunakan SMA tetapi dapat juga menggunakan WMA dan XMA. Jadi, sebenarnya bergantung pada mana yang menurut Anda cocok. Saya hanya akan membahas cara membaca untuk Fast Stochastic Oscillator, untuk varian lainnya sama saja dalam cara membacanya. Yang berbeda adalah sensitifitas dan keakuratannya saja. Dan jangan lupa ada penentuan periode disinii. Jika %K kita ubah periodenya menjadi lebih besar atau lebih kecil dari 14 maka juga kan menghasilkan keakuratan yang berbeda tergantung pair yang Anda transaksikan.


Gambar diatas adalah Full Stochastic Oscilaltor dengan menggunakan pemulusan 5 periode untuk %K-nya. Periode yang saya pakai disini adalah 14. Perhatikan perbedaannya dengan Fast Stochastic Oscillator yang telah saya berikan diatas. Full Stochastic terlihat lebih smooth dan halus.

Interpretasi Stochastic Oscillator

Ada beberapa informasi yang dapat kita peroleh dengan Stochastic oscillaotr. Namun secara umum tidak berbeda dengan informasi pada RSI dan SMA. Dan memang Stochastic Oscillator sebenarnya adalah gabungan dari kedua jenis indikator tersebut dengan cara perhitungan yang berbeda. Secara keseluruhan, indikator ini dapat kita gunakan untuk menentukan keadaan overbought/ oversold (yang artinya prediksi trend untuk jangka panjang), perpotongan antara %K dan %D (sebagai short term trend), dan Bullish/Bearish centerline.

Overbought / Oversold

Keadaan overbought/ oversold menurut Stochastic diperoleh bila garis %K telah memasuki batasan 20 dan 80 yakni dibawah 20 untuk oversold dan diatas 80 untuk overbought. Sama dengan RSI bukan? Harap diingat juga bahwa batasan 20/80 ini bukanlah batasan mutlak. Bisa saja 30/70 atau yang lain. Jadi jangan heran bila saya juga menggunakan batasan yang berbeda dalam menentukan kondisi overbought/ oversold dari situasi ini.

Keadaan overbought/ oversold ini akan memicu naik turunnya harga dalam jangka panjang. Apabila sedang terjadi kenaikan harga namun stochastic sudah menuju titik overbought-nyadan mulai meninggalkan area tersebut,itu berarti akan terjadi tekanan pada laju kenaikan harga yang pada akhrinya membuat harga kembali turun sampai keseimbangannya yang baru. Perhatikan gambar berikut. Untuk batasan overbought/ oversold kali ini saya menggunakan 25/75 (saya beri garis ungu) dan garis kuning menandakan %K meninggalkan area overbought/ oversold sehingga dapat kita katakan harga sedang menuju momentum kenaikannya.


%K and %D Crossing

Nah, kalau batasan overbougth/ oversold itu untuk trend jangka panjang, maka perpotongan %K dan %D ini kita gunakan untuk perubahan trend minor. Maksudnya begini, bila dalam suatu kondisi long Bullish trend, seringkali dalam pergerakannya kita menemukan trend-trend minor. Besarnya minor dan mayor disini sangat relatif, bergantung pada time line yang kita gunakan. Untuk time line jam-jam an misalnya, jangan remehkan minor trend ini karena pergerakannya bisa mencapai 50 point! Itu artinya lebih dari cukup untuk memperoleh keuntungan sampai 50 Dollar hanya dengan 1 lot dan mengandalkan minor trend.

Seperti kita ketahui sebelumnya %D merupakan MA dari %K yang tidak lain pencerminan dari perubahan harga. Jadi, sesuai dengan sifat MA dalam menentukan perubahan trend, setiap perpotongan antara %D dengan %K berarti adalah perubahan trend untuk jangka waktu singkat di depan. Kondisi Bullish terjadi bila garis %K memotong %D dari bawah dan sebaliknya trend Bearish diperoleh ketika %K memotong dari atas. Keadaan ini bisa saja berlangsung bahkan ketika kedua garis sedang dalam wilayah overbought/ oversold. Jika ini terjadi, itu artinya memang tekanan beli atau jual sedang kuat sekali sehingga akan terjadi kemungkinan harga menembus batas support dan ressistance-nya. Perhatikan gambar berikut:



Pada gambar barusan kita bisa melihat secara keseluruhan harga sedang bergerak naik namun demikian sering kali pada saat kenaikan harga, terjadi penurunan-penurunan singkat yang merupakan usaha para pembeli menurunkan harga namun tidak cukup kuat dalam menahan tekanan beli. Dalam kondisi demikian kita bisa mengambil dua keuntungan sekaligus yaitu pada trend dalam jangka panjang maupun dalam short term trend. Kedua kondisi ini dapat kita ketahui cukup dengan Stochastic Oscillator.


The Centerline

Sama seperti oscillator lainnya, pada Stochastic Oscillator pun juga terdapat centerline yang dipatok pada nilai 50. Pembacaan centerline ini pun sama persis dengan cara pembacaan pada RSI. Bila %K memotong centerline dari bawah ini menandakan kondisi Bullish Centerline dan sebaliknya bila % K memotong dari bawah kondisi Bearish tercapai. Sederhana bukan? Namun demikian sejujurnya centerline crossover ini jarang digunakan karena seringkali terlambat memberikan rekomendasi buy/sell. Para analis lebih sering menggunakan perpotongan antara %D dengan %K.


Hal yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan indikator yang bergerak dalam kisaran tertentu seperti ini adalah sensitivitasnya. Begitu juga pada Stochastic yang dapat bersifat sangat sensitif bila kita menggunakan periode yang tidak tepat. Penggunaan periode yang tidak tepat dapat membawa kita pada pengambilan keputusan yang salah yang pada akhirnya membawa kita pada kerugian besar.Untuk itu sangat disarankan Anda mencari periode yang terbaik pada indikator ini untuk setiap pairs. Besarnya bisa berbeda-beda. Semakin panjang periode yang dipakai maka grafik indikator akan semakin halus yang artinya ke-sensitifitas-annya akan berkurang. Disarankan juga untuk menggunakan Full Stochastic dalam penggunaan karena memang lebih halus dan dapat mengurangi grafik indikator yang terlalu keriting.

Relative Strength Index

Relative Strength Index
Relative Strength Index diperkenalkan pertama kali oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978 pada bukunya New Concepts in Technical Trading Systems. Nilai dari Rsi berada pada kisaran 0-100 (itulah sebabnya mengapa digolongkan sebaga indikator oscillator. Oscillate = berkisar). RSI sendiri merupakan indikator yang membandingkan momentum harga yakni antara nilai pada saat ini terhadap daya tarik losses yang terjadi.

Secara matematis RSI dituliskan sebagai berikut:

dengan RS adalah :

RS = Relative Strength, merupakan ratio antara dua buah XMA yang dihaluskan
AG = Average price gain pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total gain dibagi periode yang dipakai.
AL = Average price loss pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total loss dibagi periode yang dipakai.

Tadinya saya ingin mencantumkan cara perhitungan di atas tapi berhubung saya malas membuatnya, saya urungkan. Toh saya rasa tidak berguna juga bagi Anda. Kita cukup mengetahui apa itu RSI dan aplikasinya untuk kita. Perhatikan gambar berikut:

Grafik EUR/USD,Daily. Diambil 08 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

Aplikasi RSI

RSI dapat kita gunakan untuk mengetahui hal-hal berikut ini:
  • Overbought/Oversold menurut RSI
  • Divergence positif/negatif
  • Momentum pergerakan harga
Akan saya jelaskan satu persatu cara mengetahui ketiga hal diatas menurut RSI.

Overbought / Oversold menurut RSI
Cara pengidentifikasian kondisi overbought / oversold dengan RSI sangatlah sederhana. Sederhana namun belum tentu mudah. Aturan umum yang berlaku adalah kondisi overbought diperoleh bila RSI memotong garis 70 dan oversold bila RSI memotong garis 30. Lalu apakah selalu 30-70 ? Tidak. Beberapa buku merekomendasikan 20-80 dan berbeda-beda untuk tiap pair yang kita tradingkan. Bisa saja untuk mata uang tertentu dalam kondisi tertentu batasan overbought / oversold berada pada 40-60, jadi bergantung mana yang sesuai. Lagi-lagi perlu dilakukan trial and error. Namun demikian sebagai sedikit panduan, RSI akan semakin akurat digunakan pada kondisi pasar yang efisien dan stabil. Sampai saat ini, pasar forex merupakan pasar yang paling stabil dan efisien dalam pergerakannya (harga lebih ditentukan oleh market dan sangat likuid). Jadi, sedikit banyak batasan 30-70 masih berlaku disini walaupun tidak mutlak.

Perhatikan chart berikut ini:

Grafik GBP/USD, 1 hour. Diambil 08 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com


Divergence Positif / Negatif menurut RSI
Sama seperti MACD, RSI juga dapat digunakan untuk menentukan divergence positif maupun negatif (bagi saudara yang lupa apa itu artinya divergence dapat kembali membaca mengenai indikator MACD). Cara membaca divergence pada RSI pun tidak bebeda dengan cara membaca divergence pada MACD.

Jika indikator RSI bergerak naik sementara harga sedang menurun, hampir dapat dipastikan bahwa harga akan bergerak mengikuti pergerakan indikator RSI yaitu kembali naik. Demikian juga sebaliknya bila RSI sedang menurun dan harga sedang naik, maka beberapa saat kemudian harga akan bergerak turun mengikuti arah pergerakan RSI. Perhatikan gambar dibawah ini :

Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 12 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com


The Centerline Crossover (Momentum)
Seperti juga pada MACD yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan momentum kenaikan/penurunan harga, RSI juga dapat digunakan untukhal yang sama. Bedanya jika pada MACD crossover terjadi pada garis nol maka pada RSI pada garis 50.

Cara membaca kekuatan momentum suatu harga sama seperti pada MACD yakni bila garis RSI menembus centerline (garis 50) dari bawah maka sedang terjadi trend kenaikan. Besarnya momentum sebanding dengan besar nilai RSI yang terjadi. Demikian juga berlaku sebaliknya. Mari kita perjelas dengan satu gambar:

Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 12 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

False Signal pada RSI
Jangan menggunakan RSI sebagai indikator Anda tanpa membaca bagian ini terlebih dahulu!! Mengapa? Jika Anda cukup cermat memerhatikan gambar-gambar yang saya sajikan diatas pasti beberapa di antara Anda bertanya, mengapa ada beberapa keadaan dimana apa yang dikatakan RSI berbeda dengan keadaan yang sebenarnya?

Inilah yang disebut false signal alias sinyal palsu. Jika kita telusuri dari rumus RSI mula-mula dapat kita ketahui bawha pada dasarnya RSI bergerak dengan sangat sensitif. Sebuah indikator yang sensitif memungkinkan kita memiliki banyak “anjuran” untuk Buy/Sell menurut indikator yang bersangkutan. Itu keuntungannya. Namun itu pun menjadi sekaligus bumerang bagi kita karena dengan semakin banyaknya anjuran yang ada maka akan semakin banyak kesempatan untuk terjadi anjuran yang menyesatkan yang membawa kerugian besar.

Oleh banyak chartist, RSI tidak digunakan sendirian sebagai indikator utama karena sifat sensitifnya itu. RSI lebih sering dipakai sebagai penguat anjuran oleh indikator lain.

Lalu adakah cara untuk menghilangkan false signal pada RSI atau setidaknya mengurangi kepalsuan si RSI ini? Ada. Tentu saja ada. Cara yang paling sederhana adalah mencari periode yang terbaik pada RSI yang hendak kita gunakan. Ini kembali pada proses trial and error.

Mari kita kembali lihat gambar:

Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 12 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

Nah, periode mana yang cocok, silakan Anda yang tentukan sesuai selera masing-masing. Saya sendiri jika hendak menggunakan RSI biasanya menggunakan periode 10 atau 14, namun saya kembalikan lagi pada Anda sebagai pembaca.

Cara lainnya lagi adalah mengurangi sifat sensitifitas RSI dengan memangkas bagian-bagian RSI yang terlalu keriting. Caranya dengan memberikan penghalus pada RSI menggunakan SMA.

Grafik GBP/USD, 1 hour. Diambil 12 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

Pada gambar diatas saya menggunakan SMA 5 periode untuk menghaluskan RSI yang terlalu keriting. Perhatikan pada area yang saya beri tanda dengan lingkaran hijau. Terlihat bahwa nampaknya seolah-olah RSI akan menembus centerline yang artinya akan terjadi penguatan harga dalam tempo lumayan panjang. Tetapi ternyata itu hanyalah false signal, terbukti harga bergerak turun dan tidak terjadi kenaikan sama sekali. False signal ini dapat kita ketahui lebih dini ketika memberikan SMA pada RSI. SMA menunjukkan tidak menembus centerline yang artinya tidak akan terjadi penguatan harga sama sekali. Demikian caranya. Perlu diketahui, kondisi overbought/ oversold pada area 30-70 pun seringkali memberikan false signal dan dapat kita atasi dengan cara yang sama seperti cara diatas.

The Candlestick

The Candlestick
Untuk memulai sebuah analisa, kita harus mampu membaca grafik terlebih dahulu. Grafik yang biasa dipakai adalah sebuah grafik sederhana antara harga vs waktu. Sumbu “X” sebagai waktu dan sumbu “Y” sebagai harga.

Perhatikan gambar dibawah ini. Ini disebut “Candlestick Chart” karena bentuknya yang seperti lilin. Untuk grafik, saya mengambilnya pada www.netdania.com , penyedia realtime chart untuk forex. Anda dapat mengaksesnya dengan cuma-cuma.

Grafik GBP/USD, 1 hour. Diambil 24 Juni 2005. Sumber : www.netdania.com

Grafik ini dibuat pada abad ke 17 oleh orang-orang Jepang yang awalnya digunakan untuk memantau pergerakan harga pada produk-produk komoditi. Steven Nison dikenal sebagai orang pertama yang mempopulerkan chart model ini. Sifatnya yang sangat representatif karena terdiri dari High, Low, Open dan Closing Price membuat grafik ini paling populer dipakai oleh para analis forex. Jika Anda terbiasa dengan produk-produk sekuritas, grafik ini tidak pernah digunakan untuk memantau harga. Kenapa? Sederhana, harga sekuritas hanya memerlukan closing price saja tidak seperti pada forex trading.

Mari saya bantu Anda memahaminya. Sebenarnya ada lagi jenis grafik lainnya seperti bar chart, dot chart, line chart, dan lainnya. Tapi yang paling representatif ya ini.. si candlestick ini.

Gambar diatas adalah grafik untuk nilai tukar GBP/USD. Jika Anda melihat garis biru putus-putus dibagian atas itu adalah harga terakhir dari nilai GBP/USD yaitu sebesar 1,8238. Artinya satu GBP harganya USD 1,8238 (ingat cara membaca quote yang pernah saya terangkan di modul sebelumnya!). Lihat juga tulisan kecil di bagian kiri atas yang tertulis “1 hour”. Itu artinya satu candle (satu batang, gitu lho maksudnya….) mewakili pergerakan harga untuk satu jam.

Interpretasi candlestick didasarkan “pattern” yang ada. Candle yang berwarna hijau artinya harga bergerak naik atau closing price lebih tinggi nilainya dibanding opening price. Sebaliknya, candle berwarna merah artinya harga bergerak turun atau clsoing price lebih rendah nilainya dibanding opening price. Lalu apa garis vertikal diatas dan dibawah dari candle itu? Itu adalah highest price dan lowest price selama periode yang diberikan. Dalam contoh diatas adalah harga terendah dan tertinggi untuk setiap jamnya karena periode yang digunakan adalah per-jam.

Jika memakai istilah Bullish dan Bearish maka yang berwarna hijau adalah Bullish pattern dan yang berwarna merah adalah Bearish pattern. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini:


Jangan heran bila Anda menemui warna yang berbeda untuk kedua harga diatas misalnya biru dengan merah. Tidak masalah, bergantung masing-masing chart provider dalam memberikan warna.

Perhatikan gambar dibawah ini:


Ini adalah candlestick untuk EUR/USD dengan periode daily/harian. Begini cara membacanya: Pada tanggal 20 terjadi penurunan harga dibandingkan hari pembukaannya yaitu dari 1.2210 ke 1.2131 (candle merah persis diatas tulisan oranye yang saya buat). Itu berarti ada perubahan harga sebesar 79 point pada tanggal 20 tersebut. Pada hari berikutnya yaitu tanggal 21 terjadi kenaikan harga yaitu dari 1.2131 menuju ke 1.2186 (candle berwarna hijau tepat dibawah tulisan ungu yang saya buat). Nah begitu seterusnya.

O ya, sekarang muncul pertanyaan, apakah opening price itu harus sama nilainya dengan closing price pada hari sebelumnya? Tidak! Tidak harus, dan kenyataannya sering terjadi bahwa opening price berbeda dengan closing price pada hari sebelumnya. Ini seringkali terjadi bila melewati hari libur (Sabtu dan Minggu) ada jika ada kejadian khusus. Ketidak samaan ini biasa disebut “gap.” Gap ini ada gunanya dalam memprediksi harga dan ada jenisnya pula. Nanti saya jelaskan kegunaan gap. Tapi untuk sementara pengertian kita sampai disini saja dulu.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah:


Gap pada candlestick

Pelajari lebih detail lagi tentang formasi candle stick karena biasanya formasi itu sangat penting untuk melakukan entry dan exit point.

Moving Average Convergence Divergence (MACD)

Moving Average Convergence Divergence (MACD)
MACD diciptakan oleh Gerald Appel dan mengambil formulasi yang sebenarnya mirip dengan Moving Average. Indikator ini terdiri dari dua bagian yaitu MACD histogram dan garis MACD sendiri. Secara garis, MACD terbagi atas tiga bagian yaitu triger line, center line dan MACD line. Perhatikan gambar dibawah ini :

Anda akan mengetahui mengapa MACD dikatakan mengambil formulasi yang sama dengan MA. Mari kita lihat asal dari garis-garis diatas (MACD line, triger line, Histogram, dan centerline) :

MACD line
Secara default fromulasi MACD line adalah : XMA12 – XMA26 yaitu selisih dari XMA periode 12 dengan XMA periode 26. Oleh karena menggunakan XMA, maka sifat-sifat MACD juga akan menyerupai sifat-sifat XMA yaitu memberikan sinyal yang lebih dini dibanding MA lainnya.

Triger line
Triger line adalah garis pemicu yang sebenarnya secara default adalah XMA9.

Centerline
Garis biasa. Merupakan garis nol yaitu membatasi histogram negatif dengan histogram positif.

Histogram
Formulasi untuk histogram adalah: MACD line – Triger line. Digunakan sebagai indikasi overbought/oversold. Akan saya perjelas nanti.

APlikasi MACD
Mungkin terlintas dipikiran kita mengapa kita harus repot-repot menggunakan MACD yang padahal hanya pengurangan dari XMA saja. Tidak demikian kenyataannya. Melalui formulasi sederhana seperti ini ternyata MACD mampu memberikan informasi bukan hanya trend yang akan terjadi tetapi lebih dari itu.

MACD dapat digunakan untuk mengetahui peralihan momentum yang dinilai kuat atau pun lemah, juga dapat dipakai untuk mengetahui kondisi overbought/oversold pada pasar yang dapat memicu peralihan trend.

MACD untuk Perubahan Trend
Ini adalah kegunaan khas dari MA yang digunakan MACD sebagai MACD line dan triger line. Cara membaca peralihan trend dari Bullish menuju Bearish dan sebaliknya sama dengan cara kita membaca peralihan trend pada MA. Garis digunakan untuk membacanya adalah MACd line dan triger line. Mari kita perhatikan lagi gambar dibawah ini:

Persis seperti aturan pada pembacaan MA, pada MACD berlaku aturan apabila MACD line memotong triger line dari bawah maka akan terjadi perubahan trend menuju Bullish trend. Dan berlaku juga sebaliknya apabila MACD line memotong triger line dari atas, maka akan terjadi perubahan trend menuju Bearish trend.

Lalu apa pengaruhnya dengan center line? Adakah pengaruh perpotongan MACD line dan triger line pada perubahan trend? Ada! MACD line dan triger line yang memotong centerline juga merupakan indikasi perubahan trend. Namun dalam hal ini adalah perubahan trend dalam jangka panjang.

Mungkin kriteria panjang disini sifatnya agak relatif. Maksudnya bergantung pada jenis mata uang itu sendiri. Boleh jadi arti ‘panjang’ bagi GBP adalah sekitar 3 bulan namun pada EUR dan AUD bisa jadi 2 bulan misalnya. Jadi bergantung pada mata uang yang kita pilih dan jangan lupakan juga time scale yang kita pakai. Perrhatikan gambar dibawah ini:

Dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa long bullish trend pada EUR berlangsung selama ± 5 bulan. Lumayan panjang bukan? Nah, sepanjang waktu 5 bulan itu MACD line dan triger line beberapa kali saling berpotongan. Pada saat perpotongan itulah terjadi perubahan trend namun dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat.

Overbought dan Oversold pada MACD
Dari formulasi sederhana pada MACD, kita bukan saja dapat menentukan trend dalam jangka panjang maupun pendek. Ada satu lagi kegunaan MACD yaitu sebagai indikator overbought dan oversold. Meskipun jarang digunakan, ada baiknya kita mengetahuinya juga. Mungkin saja Anda menyukai indikator ini sebagai penentu wilayah overbought dan oversold.

Situasi overbought atau jenuh beli merupakan indikasi bahwa pasar telah mengalami kejenuhan dalam membeli mata uang yang bersangkutan. Jika ini terjadi maka diramalkan akan terjadi penurunan harga dalam beberapa saat kemudian. Begitu juga dengan oversold yang artinya kira-kira jenuh jual. Jika terjadi oversold maka diramalkan akan terjadi penguatan harga menuju titik resistance-nya. Perhatikan gambar dibawah:

Garis dibawah centerline (area minus) merupakan wilayah yang disebut oversold area dan diatas centerline (area positif) merupakan wilayah overbought. Penurunan harga sendiri terjadi pada saat histogram (nah disinilah kegunaan histogram) meninggalkan area yang bersangkutan. Coba Anda perhatikan garis vertikal yang saya buat dan text box yang saya tambahkan.

Apakah Anda mempertanyakan sesuatu mengenai garis diatas? Sepertinya terlihat bahwa bearish dan bullish trend belum tentu terjadi setelah histogram meninggalkan minus atau positif area. Inilah yang menjadi kendala jarangnya digunakan indikator ini sebagai penentu overbought dan oversold : banyaknya delay/keterlambatan yang terjadi. Sebenarnya hal ini bisa Anda atasi.

Penentuan batas antara overbought dan oversold sebenarnya sangat subyektif yaitu dapat saja berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tidak melulu center line merupakan batas antara keduanya. Dalam banyak kasus sering juga terjadi batasan antara keduanya terjadi pada titik positif atau negatif atau bahkan keduanya. Misalnya jika histogram memasuki nilai -0.0025 barulah dihitung sebagai oversold dan bila memasuki nilai +0.0025 baru terhitung sebagai overbought. Diantara keduanya tidak terhitung sebagai overbiught atau oversold. Atau bisa saja jarak keduanya tidak simetris contohnya oversold berada di -0.0025 dan overbought berada di +0.0035. Jadi bergantung pada mana yang Anda mau. Sayangnya tidak ada satupun metode untuk menentukan nilai ini secara efektif selain trial and error.
Divergence Positif dan Negatif – Is It a False Signal?
Kadang kala kita menemukan bahwa indikator MACD sedang bergerak naik sedangkan harga malah sedang menurun atau sebaliknya, indikator bergerak turun sedangkan harga malah naik. Nah, jika kita tidak tahu kita berpikir bahwa yang terjadi adalah false signal dari MACD. Sebenarnya tidak demikian. Disinilah artinya divergence itu. Untuk itu kita langsung lihat gambar saja mengenai apa yang ingin saya tunjukkan:

Perhatikan area yang saya batasi dengan garis merah. Pada area tersebut harga bergerak cenderung naik namun sebaliknya, indikator malah bergerak cenderung turun. Apa yang terjadi kemudian adalah terjadi penurunan harga yang signifikan. Kejadian seperti ini disebut divergence negatif yaitu indikator bergerak turun namun harga sedang bergerak sebaliknya. Jika terjadi divergence negatif seperti ini maka yang akan terjadi adalah harga akan bergerak mengikuti arah dari indikator.

Hal yang sama juga terjadi pada divergence positif yaitu harga bergerak turun namun indikator cenderung naik. Jika terjadi divergence positif maka harga akan bergerak mengikuti arah indikator yaitu kembali menguat.

Divergence jarang terjadi, namun ada baiknya kita mengetahuinya supaya paling tidak Anda tidak menyalahkan saya jika terjadi false signal. Lalu, apa yang terjadi bila benar-benar terjadi false signal? Jika benar-benar terjadi false signal, saatnya kita mengubah periode dari MACD line dan triger line yang kita gunakan dan jangan menyalahkan siapa pun.

Berikut ini saya ringkaskan kaidah-kaidah yang berlaku pada indikator MACD:

No
Kriteria
Definisi
1
MACD line memotong triger line dari bawah Peralihan trend menuju Bullish
2
MACD line memotong triger line dari atas Peralihan trend menuju Bearish
3
MACD line dan triger line berada diatas centerline (area positif)
Long Bullish trend
4
MACD line dan triger line berada dibawah centerline (area positif)
Long Bearish trend
5
Histogram positif/negatif Kondisi overbought / Oversold
6
Divergence positif Harga akan ikut bergerak naik
7
Divergence negatif Harga akan ikut bergerak turun